"Cerita jujur seorang ayah dua anak di Depok yang sudah 6 bulan berjuang mencari kerja, mengurus keluarga, belajar IT, dan tetap berdiri."

6 Bulan, Dua Bocil, dan Satu Istri yang Tidak Pernah Mengeluh | Rezha Ramadhan Pratama
CERITA NYATA | PERSONAL | OPEN TO WORK

6 Bulan, Dua Bocil, dan Satu Istri yang Tidak Pernah Mengeluh

Sebuah catatan jujur dari seorang ayah di Depok yang sedang berjuang di banyak front sekaligus - dan memilih untuk tidak diam.
Rezha Ramadhan Pratama | Depok, Jawa Barat | Mei 2026 | 6 menit baca
"Hari saya dimulai bukan dari laptop. Tapi dari dapur."

BABAK PERTAMA

Bapak Rumah Tangga, Tanpa Rencana

Alarm bunyi jam 5 pagi. Bukan untuk buka email lamaran kerja. Bukan untuk scraping job portal. Tapi untuk masak. Siapkan sarapan. Pastikan seragam sudah rapi sebelum si sulung bangun -- karena kalau tidak, drama pagi bisa dimulai bahkan sebelum matahari benar-benar terbit.

Azzura, 6 tahun. TK. Cerewet dengan cara yang paling menggemaskan. Setiap perjalanan ke sekolah selalu diiringi seribu pertanyaan yang tidak selalu punya jawaban -- tapi saya jawab satu per satu, karena momen itu tidak akan terulang.

Pulang dari antar sekolah, giliran Senja yang jadi teman pagi. 3 tahun. Energinya tidak ada habisnya. Makannya susah luar biasa -- tapi kalau ngemil, bisa lupa waktu. Saya sudah berhenti mencari logikanya dan memilih menikmati saja.

Masak, beres-beres, main, jagain, ulang lagi. Begitu setiap hari. Sudah enam bulan.

Orang mungkin menyebut ini "nganggur." Bagi saya, ini pekerjaan yang paling tidak punya jam istirahat -- dan yang paling tidak punya gaji. Dua hal yang tidak selalu mudah direkonsiliasi ketika tagihan terus berdatangan.

* * *

BABAK KEDUA

Ratusan Lamaran, Beberapa Kali Hampir Sampai

Latar belakang saya ada di dunia farmasi dan kesehatan. Asisten Apoteker. Medical Representative. Bertahun-tahun bergerak di industri itu -- sampai akhirnya saya di-lay off dan harus mulai lagi dari awal, tapi dengan arah yang berbeda.

Saya memilih IT.

Bukan keputusan yang datang tiba-tiba. Sudah lama saya mendalami sisi teknologi dari pekerjaan saya sebelumnya -- terutama Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), pengelolaan data klinis, dan infrastruktur server di lingkungan kesehatan. Saya tahu bidang ini. Saya ingin masuk lebih dalam.

Maka dimulailah perjalanan itu. CV dirapikan. Infografis dibuat. LinkedIn diperbaiki. Lamaran dikirim -- ke posisi IT Officer, IT Support, Business Analyst. Ratusan lamaran. Puluhan interview. Dan beberapa kali sudah sampai ke titik yang terasa sangat dekat -- sudah duduk berhadapan dengan pengambil keputusan di level atas, sudah merasa "ini mungkin yang ditunggu-tunggu."

Yang paling berat bukan di awal proses.

Yang paling berat adalah ketika sudah sejauh itu -- sudah melewati semua tahap, sudah membuktikan diri -- dan jawabannya masih: belum.

Bukan penolakan yang kasar. Hanya sunyi. Dan sunyi kadang lebih berat dari kata-kata.

Saya tinggal di Depok. Jarak ke Jakarta, Bekasi, atau kota-kota sekitarnya bukan penghalang -- saya bersedia. Tapi enam bulan ini mengajarkan satu hal yang tidak bisa dipelajari di mana pun: bahwa rezeki punya waktunya sendiri, dan tugas kita hanya terus bergerak sambil menunggu pintu yang tepat terbuka.

* * *

BABAK KETIGA

Tentang Perempuan yang Tidak Pernah Mengeluh

Ada satu hal yang membuat saya masih bisa berdiri sampai hari ini.

Namanya Dian.

Sejak hari pertama saya kehilangan pekerjaan, tidak sepatah kata pun keluhan yang keluar dari dia. Beliau berangkat pagi, pulang sore, menopang keluarga ini -- dan masih sempat bertanya kabar saya. Bukan soal lamaran. Bukan soal interview. Tapi soal saya. Apakah saya baik-baik saja.

Jujur, itu pertanyaan yang paling susah saya jawab.

Karena ada hari-hari di mana saya tidak benar-benar baik-baik saja. Ada malam-malam di mana saya duduk diam setelah anak-anak tidur, dan pikiran mulai jalan sendiri. Cicilan rumah yang menunggak. Biaya sehari-hari yang tidak terkejar. Pertanyaan tanpa jawaban yang terus berputar.

Tapi keberadaan Dian -- yang tidak pernah pergi, yang memilih untuk tetap ada -- adalah alasan terbesar kenapa saya tidak pernah benar-benar jatuh. Dia tidak butuh kalimat motivasi yang panjang. Cukup hadir. Cukup bilang, "Nanti juga ada jalannya."

Dan saya percaya itu.

* * *

BABAK KEEMPAT

Diam-Diam, Saya Tetap Membangun

Di sela semua itu -- di sela masak, antar jemput, dan jagain dua bocil yang tidak pernah kehabisan energi -- saya tidak berhenti belajar.

Saya membangun channel YouTube gaming bernama Gaming Jalur Kentang. Dari nol. Mulai dari merancang logo, banner, watermark, sampai belajar cara mengoptimasi laptop agar bisa menjalankan game-game berat. Ini bukan soal gaming semata -- ini soal membuktikan pada diri sendiri bahwa saya masih bisa menciptakan sesuatu, bahkan di kondisi yang tidak ideal.

Saya juga terus mendalami dunia yang ingin saya masuki. SIMRS, alur kerja IT di lingkungan klinis, kebutuhan sistem informasi di industri kesehatan -- bidang yang saya yakini sebagai perpaduan terbaik antara pengalaman lama dan arah baru saya.

Berikut yang saya pelajari dari enam bulan ini:

  • Bahwa sampai tahap manapun dalam rekrutmen, itu bukan jaminan -- dan bukan cerminan nilai diri kita sebagai manusia.
  • Bahwa transisi karir butuh kesabaran yang berbeda dari jenis kesabaran lainnya.
  • Bahwa orang yang berhenti belajar akan jauh lebih susah bangkit ketika kesempatan akhirnya datang.
  • Bahwa meminta tolong dan terbuka pada orang lain bukan kelemahan -- itu strategi.
  • Bahwa ada makhluk berbulu bernama Gecky -- British Shorthair, 4 bulan -- yang tidak tahu apa-apa soal tekanan hidup, tapi selalu tahu kapan harus duduk di sebelah saya.
* * *

PENUTUP

Cerita Ini Belum Selesai

Saya tidak tahu kapan semua ini akan berubah. Mungkin minggu depan. Mungkin bulan depan. Mungkin masih butuh waktu.

Tapi setiap pagi, ketika Azzura pamit ke sekolah dan Senja minta gendong sebelum saya sempat selesai masak -- saya diingatkan lagi kenapa saya tidak boleh menyerah.

Bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk mereka.

"Kita semua sedang menulis cerita yang belum selesai. Semoga akhirnya indah -- untuk kita semua."

-- Rezha Ramadhan Pratama, Depok

Kalau kamu membaca ini dan punya peluang di bidang IT Support, IT Officer, atau Business Analyst -- terutama di lingkungan kesehatan atau yang terbuka untuk kandidat dari Depok dan sekitarnya -- saya sangat terbuka untuk terhubung.

Dan untuk siapa pun yang sedang berjuang diam-diam sambil tetap kuat untuk keluarganya: kamu tidak sendirian. Mudah-mudahan rezeki kita semua tidak tertukar.

TOPIK DAN KATA KUNCI

#OpenToWork #JobHunting #ITSupport #BusinessAnalyst #ITOfficer #CareerTransition #HealthIT #SIMRS #TransisiKarir #BapakRumahTangga #Keluarga #Ayah #CeritaHidup #Depok #GamingJalurKentang #NeverStopLearning #NeverGiveUp #Rezeki #Motivasi #LayOff
RR
Rezha Ramadhan Pratama
Spesialis Implementasi Sistem IT | Analis Bisnis | Expert HIS | Quality Assurance
Depok, Jawa Barat | Open to Work

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas 1. Rangkuman Konsep Digital

Rezha_IT SOLUTIONS FORUM 1

Daftar URL Uhamka Dengan Keywords Almaun Rezha Ramadhan P dengan NIM 1703015094